1 November 2010

pssi -dengan huruf kecil-

Konon pssi -dengan huruf kecil- sudah memasuki usia 80 tahun. Ya selamat ulang tahun kalau begitu. Semoga panjang umur, semoga anu, semoga bagaimana lah (!). Cuma berharap dapat kata yang tepat untuk mengucapkan selamat ulang tahun seperti layaknya ucapan happy birth day saja, saya kehilangan gairah, kehilangan inspirasi. Singkatnya, cuma dapat selamat.”Selamat ya...”.
Menjelang laga Derby Manchester tadi malam, di running teks sebuah tv swasta nasional yang getol menyiarkan laga-laga berkelas dari Liga Inggris tertulis; pssi -dengan huruf kecil- akan memberikan penghargaan kepada para pemangku kepentingan dilingkungan olahraga rakyat ini sebagai syukur atas perjalanan kedewasaannya. Konon (lagi), ada penghargaan Suratin Utama dan Suratin Madya . Tolak ukur penghargaan pastinya milik tim pssi -dengan huruf kecil-.
Miskin Prestasi Koq Bangga
30-31 Maret lalu, ada Kongres Sepakbola Nasional. Hiruk pikuknya lebih ramai ketimbang hasilnya. Sama dengan laga-laga di Indonesia Super Liga yang riuh gemuruh. Hasilnya?.Pritttttt.....!. Tak sebanding dengan ongkos jargon-jargon KSN, tak sebanding dengan espektasi orang-orang bola kebanyakan. Artinya, tak ada keinginan baik untuk secara kolektif merenungi, mengevaluasi diri, menemukan solusi dan berpikir tentang prestasi.
Sebaliknya, yang jadi pergumulan seru adalah sebuah martabat kepengurusan. Nurdin Halid yang selama memimpin pssi -dengan huruf kecil- menjadikan pssi -dengan huruf kecil- sebagai kendaraan prestisenya tidak lagi memikirkan prestasi. Sehingga kekalahan Tim Nasional atas Laos saja bukan tamparan untuk memacu diri. Sebaliknya NH lebih bangga dengan proyek visioner pssi -dengan huruf kecil- menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 (belakangan proyek ini -ditertawakan- oleh FIFA karena pssi -dengan huruf kecil- gagal mengantongi dukungan pemerintah sebagai prasyarat dasar mengikuti biding tuan rumah World Cup).
Bukan itu saja karutmarut pssi -dengan huruf kecil- dibawah kepemimpinan NH gagal menuai prestasi membanggakan (dan problem ini juga gagal di selesaikan oleh forum KSN). Lagi-lagi bukan urusan teknis yang banyak diperdebatkan (tepatnya dipergunjingkan), tapi pssi -dengan huruf kecil- lebih disibukkan urusan non-teknis. Pengaturan skor, ploting promosi-degradasi, isu suap, standard ganda dalam penerapan aturan main, keributan massal antar supporter dan hal lain yang memang berangkat dari miskinnya prestasi. Olahraga, apapun bentuk permainannya, ukuran keberhasilannya adalah prestasi. Tanpa prestasi; gagal dan pecundang. Itu saja.
Kegagalan sistemik pssi -dengan huruf kecil- sudah melintasi batas toleransi bukan saja penggiat olahraga sepakbola, tapi semua rakyat Indonesia terusik. Apa tidak malu kalau ratusan juta rakyat di republik ini, hanya mencari 11 orang saja menjadi tim sepakbola yang mumpuni susahnya setengah mati?. Secara ekstrem, masyarakat hafal betul skore kekalahan timnas kita ketimbang skore kemenangannya.
Fair Play atau Fire Play ?
Permainan bermutu, trengginas dan bermartabat masih jadi angan-angan bagi sebagian penggila sepakbola ditanah air. Tak heran jika kemudian lebih menikmati tontonan Liga Inggris, Liga Spanyol dan liga-liga eropa lainnya. Kenapa?. Jelas, karena disanalah ada terapan fair play sebenarnya. Pemain, pelatih, official da penonton menjunjung tinggi sportivitas. Bukan itu saja, martabat permainan juga seolah menunjukkan bahwa sepakbola mampu mengajarkan banyak hal dalam segi berkehidupan. Nah kalau ditanah air?. Kalah berarti rusuh. Wasit salah semprit dikeroyok. Tak heran jika contoh peradaban ini menghasilkan praktek-praktek manipulatif. Ya permainannya, ya pengurusnya, (bahkan) ya pemain dan penonton kita.Saya lebih memilih fire play untuk pssi -dengan huruf kecil-, karena memang sepakbola api lebih tepat untuk menggambarkan kagamangan luar biasa dalam pengelolaan sepak bola kita.
Faktanya kita memang lebih menggilai Manchester United atau Emyu, The Blues Chelsea, The Gunners Arsenal, Tottenham Hostpur dan The Reds Liverpool untuk kontestan EPL ketimbang Persebaya Surabaya, Arema Indonesia, Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makasar. Semua mata akan melotot nikmat saat melihat Bercelona, Real Madrid, Valencia, Espanyol atau Deportivo la Coruna memainkan laga-laga mereka di Spanyol ketimbang tontonan ala kadarnya yang ditunjukkan oleh Persiwa Wamena, Persik Kediri, Pelita Jaya, Sriwijaya FC dipentas LSI. Kenapa?
Ya gak perlu dijawab, karena pssi -dengan huruf kecil- yang wajib menjawabnya. Terakhir, kalau pssi -dengan huruf kecil- mau kita tulis dengan huruf besar; besarkan prestasi donk. Biar kita gak Cuma dengan Viva EmYu, Bravo La Barca aja.....*

Selamat ulang tahun ke-80 (katanya) untuk pssi -masih dengan huruf kecil-
Bekasi, 18.04.2010

0 komentar:

Posting Komentar